Belajar Pengelolaan Kota Dan Pelayanan Publik, Pemkab Bangli Study Tiru Ke Kota Surabaya

  • 06 Maret 2018
  • Umum
Belajar Pengelolaan Kota Dan Pelayanan Publik, Pemkab Bangli Study Tiru Ke Kota Surabaya
Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan penataan kota di Kabupaten Bangli, Wakil Bupati (Wabup) Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, SE, didampingi Kepala Kejaksaan Negeri Bangli Ida Ayu Ketut Retnasari Kusuma Dewi, SH, Dandim 1626 Bangli Letkol. Cpn. Andy Pranoto, M.Sc dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Kamis (14/12) melaksanakan study tiru ke Pemerintah Kota Surabaya. Kedatangan Wabup Sedana Arta dan rombongan di Kota Surabaya, disambut langsung oleh Walikota Surabaya Dr. (H.C.) Ir.Tri Rismaharini, MT dan jajaran di ruang sidang Kantor Walikota Surabaya.
 
Dihadapan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Wapub Bangli Sedana Arta menyampaikan, pihaknya memilih Kota Surabaya sebagai tujuan study tiru, mengingat Kota Surabaya memiliki banyak prestasi ditingkat nasional, utamanya dalam bidang pemerintahan, inovasi pelayanan publik dan penataan kota yang sangat baik. “Untuk itu kami datang kesini untuk belajar banyak hal, utamanya bidang pemerintahan, pelayanan publik dan penataan kota. Sehingga bisa diterapkan untuk membangun Bangli”jelasnya.
 
Disampaikan juga, dalam APBD tahun 2018 mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli akan merubah semua jenis honor termasuk perjalanan dinas dalam daerah yang akan disatukan menjadi tunjangan kinerja (tukin). Artinya, semua honor-honor pegawai diluar gaji pokok akan disatukan menjadi tukin. Untuk itu Wabup Sedana Arta ingin mengetahui lebih dalam seperti apa sistem pengelolaan tukin yang sudah lebih dulu diterapkan oleh Kota Surabaya, serta Rewards and Punishment bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). “Intinya kedatangan kita di Surabaya untuk belajar banyak hal untuk membangun Bangli”jelas Wabup Sedana Arta.
 
Sementara itu Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengawali sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan Pemkab Bangli dan menyampaikan rasa bangganya karena memilih Kota Surabaya sebagai tujuan stady tiru. Lebih lanjut Tri Rismaharini menyampaikan, saat ini pengelolaan pemerintahan Kota Surabaya sepenuhnya sudah menggunakan elektronik. Mulai dari pengelolaan keuangan, kepegawaian sampai dengan pelayanan publik semua berbasis Information technology (IT). “Dengan IT semua pekerjaan bisa dikerjakan dengan cepat, efektif, efisien dan praktis. Sehingga sangat membantu semua urusan pemerintahan dan pelayanan publik di Kota Surabaya”jelasnya.
 
Ia juga mencontohkan, jika ada pegawai naik pangkat, kenaikan gaji berkala dan sebagainya, tidak perlu lagi pegawai bersangkutan mengusulkan atau mengurus kenaikan pangkatnya. Selama dia tidak ada pelanggaran disiplin, pasti otomatis naik pangkat. “Semua sudah pakai sistem elektronik dan semua data sudah dalam bentuk soft data”jelasnya.
 
Untuk pelayanan publik lainnya, jelas Tri Risma, pihaknya memiliki layanan Mal Pelayanan Satu Atap yang terintegrasi dengan sistem IT. Selain itu juga ada layanan siaga bencana yang didalampnya diisi oleh seluruh SKPD. Jadi kalau ada pengaduan seperti air mati, lampu penerangan jalan mati, masalah sosial, kejahatan dan sebagainnya, semua pengaduan bisa lapor ke pelayanan ini. Karena disitu juga ada dari unsur kepolisian yang bertugas. Kalau ada kejahatan, petugas bisa mengontak polisi terdekat dari kejadian. Selain itu, Pemkot Surabaya juga memiliki layanan ambulance 24 jam gratis yang melayani antar jemput pasien.
 
Terkait dengan penerapan tukin, Tri Risma menjelaskan bahwa rata-rata ASN di Pemkot Surabaya tidak bisa menyerap 100 persen. Paling tinggi biasanya hanya mencapai 80 persen. Karena ASN setiap hari melaporkan apa yang dia kerjakan dan semua ada pembobotan berdasarkan yang dikerjakan. “Misalkan pegawai yang ngetik surat dengan yang merancang program tentu bobot pekerjaanya berbeda. Jadi semua ada bobot dan kotrol”jelasnya.
 
Terkait dengan pengendalian sampah di Kota Surabaya, pihaknya mengaku bisa berkerjasama dengan masyarakat. Karena sekarang sebagian besar sampah sudah dipilah dan dikelola di rumah tangga. Selain itu TPA di Pemkot Surabaya juga sudah mampu mengolah sampah menjadi listrik kapasitas 2 MW. “Untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Surabaya, dulu setiap hari saya turun ke kampung-kampung. Kalau ada kampung kotor saya tidak segan nyapu sendiri. Maka dimobil saya selalu ada sapu. Tapi sekarang masyarakat sudah menyadari dan semua tergerak untuk peduli pada sampah. Sampah sudah mulai dipilah, setiap minggu mereka bisa jual sampah kering dan yang basah digunakan untuk kompos. Sebagian besar kampung disurabaya sekarang sudah indah dan tertata. Saya Kalau masuk kampung betah sekali, karena bersih dan hijau kayak taman. Rumah tidak bagus, tapi karena tertutup tanaman semua jadinya indah dan bersih. “Sekarang masuk dikampung-kampung sudah kayak masuk taman.”tutupnya.
  • 06 Maret 2018
  • Umum

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita